Dualitas Kehidupan, Covid-19 yang Menghidupkan Kembali Sisi Kemanusiaan

Awaliah Rahmat
Jika disetiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, dimana pada momen ini selalu menghadirkan diskursus untuk mencari Kartini dimasa sekarang. Maka Covid-19 telah mempertemukan kita dengan Kartini-Kartini masa kini, mereka adalah perempuan yang berjuang digarda terdapan melawan pandemi ini.(Foto : Awaliah Rahmat)

Terkini.id, Maros – “Keberkahan Tuhan selalu mendahului kemurkahannya”, kalimat diatas harus menjadi prinsip kita dalam menjalani masa-masa tersulit ini. Saat dimana kita diuji dengan ketakutan, kematian dan kelaparan. Saat dimana diri kita diuji untuk menekan ego, saat dimana diri kita diuji untuk bersolidaritas, saat dimana kita diberi jalan untuk kembali mengingat ilahi, dan saat dimana kemanusiaan kita mulai dihidupkan kembali dengan adanya pandemi ini. Sebab manusia jauh sebelum datangnya wabah ini, kemanusiaan mereka telah mati oleh virus virus financial dan bom financial yang membunuh dan melulantahkan nilai nilai kemanusiaanya.

Covid- 19 datang untuk menyadarkan kita bagaimana tersiksanya mereka yang hidup terisolasi, Covid- 19 datang mengajarkan kepada kita untuk merasakan sebuah kelaparan, seperti yang dirasakan anak-anak yang hidup dibawah kolom-kolom langit, anak-anak yang mungkin saat ini tidak peduli dengan wabah ini atau bahkan mereka tidak mengenalnya sama sekali, karna mereka hanya sibuk dengan perut mereka yang sakit karna sudah 5 (lima) hari tidak tersentuh makanan.

Disisi yang lain pandemi ini datang menguji kenegarawanan seorang pemimpin, pandemi ini datang menguatkan tanggul ketabahan seorang pemimpin, dan pandemi ini datang menguji sikap kedewasaan seorang rakyat. Pandemi ini datang disaat manusia mulai lupa akan politik yang mengedepankan martabat kemanusiaan, pandemi ini datang untuk mengajarkan mereka kembali berfikir tentang kemanusiaan dibalik orientasi orientasi politik yang hanya berpusat pada kepentingan praktis. Sungguh pandemi ini datang untuk menyadarkan mereka yang ingin memetik hikmah dibalik masa masa sulit ini, pandemi ini juga telah membuka mata kita tentang siapa sebenarnya yang berpihak pada kemanusiaan dan siapa yang mengingkari nilai nilai kemanusiaan.

Covid-19 datang membawa berita kebaikan, yang menunjukan kepada kita bahwa masih banyak orang baik dimuka bumi ini, mereka yang berada di garda terdepan untuk menyelamatkan sebuah kehidupan, mereka yang telah berkorban hidup demi menyelamatkan kehidupan yang lainya, mereka adalah orang orang yang berseragam dedikasi, yang bukan hanya bekerja karna sebuah tuntutan profesi,tapi lebih dari itu semua atas dasar kemanusiaan yang luhur. Covid-19 datang mengajarkan kita kembali, bahwa hidup adalah sebuah dedikasi yang tinggi terhadap penghargaan kepada kemanusiaan.

Covid- 19 datang untuk sejenak membuat bumi kita beristirahat dari tindakan exploitasi yang berlebihan. Memberi sedikit ruang kepada bumi untuk kembali memperbaiki dan meremajakan diri agar tetap menjadi tempat tinggal ternyaman untuk ummat manusia, meski tidak ada jaminan bahwa setelah wabah ini berlalu, tindakan exploitasi yang berlebihan akan kembali terjadi. Tapi setidaknya Covid- 19 telah mengajarkan kepada kita untuk tidak terlalu serakah pada kehidupan.

Jangalah menghardik ataupun membenci situasi ini, sebab ini adalah pembelajaran besar untuk keberlangsungan peradaban manusia. Wabah ini kembali mempertemukan kita dengan nilai kemanusiaan kita yang telah lama hilang atau bahkan menghidupkan kembali kemanusiaan itu, sebab beberapa dekade manusia seperti hidup tanpa nilai-nilai kemanusiaan.

Semoga wabah ini cepat berlalu dan kita bisa hidup kembali dengan tenang, hidup dengan nilai-nilai kemanusiaan yang selalu mengedepankan cinta kasih dan selalu berlaku harmonis kepada sesama makhluk ciptaan. Sudah saatnya kita kembali pada nilai nilai kemanusiaan sebelum kembali kepada keribaan ilahi.

Dualitas kehidupan yang pasti, selalu ada baik dan selalu ada buruk. Jika sebagian dari kita menganggap situasi ini adalah keburukan, maka keburukan akan selalu mendatangkan kebaikan sebagai sisi dualitasnya, kita senang tidak menunggu hikmah dibalik semua ini, tetaplah Arif menjalani kehidupan, karena keberkahan ilahi selalu mendehalui kemurkaanya.

Akhir kata saya mengutip satu pepatah Bugis

” TELLABU ESSOE RITENGANA BITARAE”

Penulis : Awaliah Rahmat

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Mewah Tidak Pernah Masuk Dalam Rumus Bahagia Anak Kecil

Sekolah Kolong dan Cita-cita Anak Negeri

Tidak Ada ‘Patriarki’ Dibalik Baju APD

Kuliah Online dan Tanggungjawab Kampus

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar